Saya tersesat di alam semesta ini yang diciptakan oleh Tuhan kita. Saya menjalani tahun-tahun terbaik saya di bawah perlindungan anda, seperti mutiara di kotak perhiasan anda. Terimalah penyesalan ini dari budakmu yang tak berdaya dan menyedihkan, menderita karena ketidakhadiranmu.
Aku hanya menemukan kedamaian di sampingmu. Kata-kata dan tinta tidak akan cukup untuk mengatakan kebahagiaan dan kegembiraanku, ketika aku berada tepat di sampingmu.
Kenangan tentang hari-hari yang kita habiskan bersama, saat-saat yang kita bagikan, mengisi hati pelayanmu. Aku menghibur diriku dengan ingatan-ingatan ini selama kamu tidak ada. Aku lemah ketika engkau pergi. Tidak ada yang bisa meringankan rasa sakitku.
Hidupku, Tuhanku, Sultan tersayang, satu-satunya doaku kepada Allah adalah melihat wajah ceriamu lagi. Tidak ada lagi pemisahan mulai sekarang. Saya berharap dari Tuhanku bahwa Sultan saya, orang yang saya cintai, akan selalu bahagia di dunia dan di akhirat.
Kamu selalu mendapatkan kemenangan melawan musuhmu. Aku tahu betul bahwa sultanku jatuh cinta pada budak ini dalam takdir. Menyeka air matanya..Membuatnya bahagia..aku memilih Islam karena dia. Karena itulah, aku hanya bisa bahagia di sekitarmu. Aku mengirimimu salah satu pakaianku yang basah oleh air mataku. Tolong kenakan, untukku.
Aku hanya menginginkan kebahagiaan bagimu, di kedua dunia. Budakmu yang miskin dan lemah, Hurrem."